Shojinka Implementation In Aggregate Production Planning By Manpower Planning And Flexible Division Of Work

SHOJINKA IMPLEMENTATION IN AGGREGATE PRODUCTION PLANNING BY MANPOWER PLANNING AND FLEXIBLE DIVISION OF WORK
Author : ARIF RAHMAN

Abstract : There are two main pure strategies in the aggregate production planning, the chase demand strategy and the level production strategy. One technique of chase demand strategy is manpower planning and allocation by manpower hire and layoff. Generally, in the aggregate production planning it allocates number of workers ignoring the division of work, or it assumes that it assigns every worker to perform overall production activities similarly. The whole activities in production line are described by precedence diagram. This study compares three scenarios of aggregate production planning, consisting less division of work scenario, fixed division of work scenario, and flexible division of work scenario. At the less division of work scenario, it calculates the number of workers taking into account the total processing time. At the fixed division of work scenario, it calculates the number of workers with attention to the needs of each work station. At the flexible division of work scenario, it calculates the number of workers ​​using shojinka technique. Shojinka is a technique for achieving flexibility preformance settings by adjusting the amount of labor to changes in demand, while balancing the production trajectory calculations based on heuristic methods.
Keywords : Shojinka, aggregate production planning, manpower planning, flexible division of work

IMPLEMENTASI SHOJINKA PADA PERENCANAAN PRODUKSI AGREGAT DENGAN PENGATURAN TENAGA KERJA DAN PEMBAGIAN KERJA FLEKSIBEL

Abstrak : Terdapat dua strategi murni utama dalam perencanaan produksi agregat, yaitu strategi mengikuti permintaan (chase demand strategy) dan strategi produksi konstan (level production strategy). Salah satu teknik yang dapat dilakukan dalam menggunakan strategi mengikuti permintaan adalah dengan mengatur jumlah pekerja, yaitu dengan merekrut dan memberhentikan pekerja sesuai dengan kebutuhan produksi (manpower hire and layoff). Umumnya penentuan jumlah pekerja dalam perencanaan agregat dilakukan tanpa memperhatikan pembagian kerja, atau diasumsikan semua pekerja yang ditugaskan masing-masing akan mengerjakan semua aktivitas produksi mulai dari awal hingga akhir. Pada penelitian ini akan ditunjukkan perencanaan produksi agregat di lini produksi yang terdeskripsi pada precedence diagram dengan tiga skenario, yaitu tanpa pembagian kerja, dengan pembagian tetap, dan dengan pembagian kerja fleksibel. Skenario tanpa pembagian kerja dilakukan pengaturan jumlah tenaga kerja dengan memperhitungkan total waktu proses. Skenario dengan pembagian kerja tetap dilakukan pengaturan tenaga kerja dengan memperhatikan kebutuhan di masing-masing stasiun kerja. Skenario dengan pembagian kerja fleksibel dilakukan pengaturan jumlah tenaga kerja menggunakan teknik shojinka. Shojinka merupakan suatu teknik untuk mencapai fleksibilitas dalm pengaturan jumlah tenaga kerja dengan menyesuaikan terhadap perubahan permintaan, dengan tetap menyeimbangkan lintasan produksi berdasarkan perhitungan metode heuristik.
Kata Kunci : Shojinka, perencanaan produksi agregat, pengaturan jumlah tenaga kerja, pembagian kerja fleksibel

Artikel dipublikasikan dalam Proceeding Seminar Nasional Teknik Industri, 2011, pp. I.173-I.178, Medan
Artikel dapat didownload pdf

Advertisements
This entry was posted in My Researches, Researches and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.